Minggu, 12 April 2009

perjalanan pena

aku suka malam ini,
di mana tak ada hilir mudik kepenatan
yang terkadang membatu dalam otak.

kini penaku jadi anggun
menari seperti colibry bernapsu menghisap sari bunga,
dan tak memperdulikan altarnya hampir habis.

dia pena,
selalu bertanya dengan bahasa goresannya,
bertanya bagaimana sebaiknya menjawab hidup ini.

tak lelah
tak mungkin lelah akan mengalahkan,
bila jawaban masih jauh,
semasih malam belum melantur meninggalkan tempat kerjanya.

(David Yuli Christiyanto Wahono)

Minggu, 05 April 2009

Aku Pasti Rindu

suatu saat,
malam dan pagi kan ku tinggalkan.
jauh dan sangat jauh sampai tak sempat melambai.

bagaimana rasa kembang gula
yang ku beli di pasar malam,
dan manisnya senyum
adonan dari bibirmu juga melepaskanku.

peluk mesra
tatapan matamu,
hangat pinantg ibuku yang menjaga,
juga akan mendebu.

aku pasti rindu,
aku pasti rindu,
ada saat datang mata bening yang menjemputku
dan rindu itu tersenyum ramah
dari hidup yang menjadi
anai-anai tak bernyawa lagi.

(David Christiyanto)

Rabu, 18 Maret 2009

Kau

kau adalah titisan dari lumbung embun yang terbungkus benang sutera,
melebihi indahnya dari hujan permata sekalipun.
kau elok bagai pagi yang selalu memberiku tempat,
menyirami beribu hektar luas perkebunan mawar dalam diriku,
menyirnakan riuh angin di pematang daratanku yang tak henti-hentinya menyemai biru,
hingga tak ingin pergi bayangmu dari larut sang bulan di penghujung senjaku,
memastikan jelas perkara diriku yang bermuasahbah.

(David Yuli Christiyanto Wahono)

Selasa, 17 Maret 2009

aku ingin seperti penyair zaman dulu

aku ingin seperti penyair zaman dulu,
di mana kampung negeri ini belum ada gedung-gedung bertingkat,
mesin-mesin menderum,
jalan beraspal,
hiasan lampu kota yang terang menyilaukan,
keramaian gelegar tetangga bertengkar,
semprawutan suara televisi membanting-banting dinding,
dan bersahutan tangis bayi yang kelaparan.

aku ingin seperti penyair zaman dulu,
di mana kampung negeri ini masih berbentuk rerimbunan tetumbuhan,
rumah dari anyaman bambu,
dan redup lampu teplok mendamar.
yang disetiap malam,
terdengar suara bahagia anak-anak bermain dolanan
di tengah lahan kedamaian,
diserukan dengan suara binatang semak-semak
dan bianglala memercantik bulan.

aku ingin seperti penyair zaman dulu,
itulah kehidupan sebenarnya;
ada kedamaian,
ada cinta,
ada kesederhanaan penuh rasa kaya,
dan keakraban romantis manusia dengan alam semesta.

(David Yuli Christiyanto Wahono)

Senin, 16 Maret 2009

kenangan, Agustus 2008

mengapa ada waktu yang harus direlakan hanya untuk dikenang?
waktu itu,
ketika malam bernyanyi dan bersanding rindu denganmu,
aku benar-benar merasakan ada kebenaran
kebenaran yang telah dititipkan dari kedamaian yang berlanjut sampai lembah pagar pinus dan deras hujan menyatu dengan dingin.

aku melihat senyum yang berjalan
menjadikan akan lupa dingin.
aku menemukan hati yang menandakan adanya cinta,
dan sekarang masih ada.

(David Yuli Christiyanto Wahono)

Senin, 09 Maret 2009

Agestia (malam PLSI, Agustus 2008)

aku tak bisa berpaling dari malam itu,
saat matamu memeluk setumpuk keranjang bunga.
kau diam,
kadang tersenyum sendiri.

tak kau sadari pandangku menangkapmu,
sembunyi di daun pintu
ruang 'Usmar Ismail',
tempat dimana aku semakin mengenalmu.
namun sekarang
banyak sedikit gurau menjadi asing.


lesung angin
diam menghantar ingatan masa kelam.

aku merasa malu malu,
bila malam bertanya padaku.
siapa dia?
gadis cantik yang bermain dengan bugenvil.

lalu ku tutup mata dan tak pedulikan malam.

biarkan nanti mimpiku yang menjawabnya.

(David Christiyanto)

Anak Kos

Lauk pauk, sebungkus hidangan sore hari
Menentramkan denyut perut di pengasingan.
Terlalu sulit untuk memikirkan esok hari,
Buat hari ini saja sudah berantakan keadaannya.
Seperti melamun sebelum datang malam,
Di perkebunan dekat jendela tempatku.

Sangat bisik kudengar suara binatang yang
menyanyi kelaparan,
Menuduh wajah kusutku bercarutmarut
celontengan luka liku luka.
Entah luka tentang wanita
Dan luka luka luka yang liku mengkudis......

Mau kemana rona penghadiran kenyang membantu?
Memberi arah
Menghilangkan linglung linglung hawa bahwa sadar
Ada jalan keluar sebelum benar benar terdampar.

dari
rambatan mengunyah hayalan
memimpin diri

terus
menerus
mengurus
tergerus ketakjelasan
masih menyudut
ketakutan dikejar asap petuah tembakau.
Semakin tertawa
Semakin tertawa
Menghina ujud kekurusanku di kamar kos.
Pengasingan
pembekapan ilmu
ilmu janji jadi lawang hari depan.

(David Christiyanto)